Minimalisme:

Minimalisme:

ORBITNEWS, – Menurut Joshua Becker, penulis buku Becoming Minimalist, minimalis adalah memiliki hal-hal yang membuat kamu bahagia, dan menghilangkan hal-hal yang tidak. Menurut penulis minimalisme merupakan konsep gaya hidup sederhana. Meminimalisir hal-hal yang tidak dibutuhkan untuk mencapai kebahagian. Hidup dengan merasa cukup akan membantu diri kita merasa tenang dan aman. Kita tidak perlu  memikirkan banyak hal-hal yang tidak kita butuhkan dan berfokus pada apa yang telah kita punya. Minimalisme mengajarkan kita untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan sesuai kebutuhan, walau tidak banyak namun berkualitas

Perkembangan teknologi yang begitu pesat meningkatkan daya beli yang tinggi sehingga mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Belanja di zaman sekarang tidak perlu bersusah payah harus ke pasar jauh dan berpanas-panasan, tapi cukup berada dalam rumah saja bisa tetap belanja dengan aplikasi belanja di handphone. Kemudahan yang di dapat masyarakat ini membawa mereka ke zona nyaman untuk belanja yang impulsif. Implusif artinya, berbelanja secara tiba-tiba tanpa berpikir panjang dengan jumlah banyak, padahal bisa saja belanjaan tersebut bukanlah bagian kebutuhan hidupnya.  Salah satu akses belanja yang sedang trend adalah siaran langsung (live streaming). Siaran langsung ini dapat ditemukan berbagai aplikasi seperti, Facebook, Instagram, Tiktok dan aplikasi belanja. 
Beberapa masyarakat Indonesia sekarang sering  menonton  siaran langsung apliksai tersebut, baik dari yang ingin berbelanja atau hanya sekdar menonton saja karena belanja siaran langsung ini sering mengadakan diskon. Menawarkan harga yang lebih murah dibanding harga di luar siaran langsung. Tawaran tersebut dapat memunculkan

sifat implusif di masyarakat karena mereka tergiur dengan harga murah. 
Siaran langsung facebook menjadi trend di Kepulauan Bangka untuk berbelanja. Hampir tiap masyarakatnya mulai anak muda hingga orang tua  memiliki facebook dan mereka cukup aktif di social media ini.  Mengetahui adanya siaran langsung facebook untuk belanja, masyarakatnya menggunakan kesempatan itu untuk sering belanja .  Kebanyakan dari mereka yang belanja adalah masyarakat  yang awalnya hanya sekedar menonton tapi ujung-ujungnya belanja karena tergiur dengan produk yang dtawarkan bukan karena kebutuhan yang penting.
Minimalisme hadir menjadi salah satu solusi untuk tetap sehat di maraknya gaya hidup implusif. Minimalisme bearti meminimalkan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan. Meminimalkan disini bukan bearti tidak boleh membeli barang atau bahkan membeli barang mahal. Namun, minimalisme ini menerapkan gaya hidup yang mempertimbangkan barang sesuai kebutuhan dengan kualitas byang baik. Sehingga,  tidak memberi ruang kesempatan untuk memperbanyak dan menumpuk barang yang pada akhirnya tidak digunakan lagi setelah dibeli.

Akun instagram yang aktif mengkampanye gaya hidup minimalis bisa kita lihat di @lyfewithless. Salah satu hastag yang dikampanyekannya yaitu #BijakKonsumsi cocok untuk diterapkan dalam gaya hidup zaman sekarang. Hastag ini sebagai bentuk edukasi pada masyarakat untuk  bertanggungjawab dengan konsumsi yang dibeli sebelum memutuskan untuk beli baru. Lyfewithless melibatkan konsumen, brand dan recycler untuk bekerjasama mencapai sikap keberlanjutan (sustainable attitude), mengurangi laju impulsifitas & menghambat sampah produk kecantikan jatuh ke TPA (tempat pembuangan akhir)
Cara hidup minimalis agar tidak impulsif dalam akun Lyfewithless ada 7R yaitu, rethink, refuse, reuse, repair, receyle, reduce, regift/ resell. Menurut penulis point-point ini bisa menjadi acuan konsumen dalam menentukan produk pilihan. Penulis menjelaskan kembali point-point tersebut 
Rethink (memikiran kembali), konsumen dapat berfikir sebelum berbelanja dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ke diri sendiri seperti, apakah itu sesuatu yang dibutuhkan? Perlukah membeli barang tersebut? Apa jadinya jika tidak beli tersebut? Apakah akan diguankan dalam waktu panajang?
Refuse (menolak) artinya kita sebagai konsumen memiliki kesempatan untuk menghindari atau mengabaikan segala bentuk iklan yang tidak benar-benar dibutuhkan dalam waktu dekat. Tidak tergiur dengan tawaran-tawaran produk yang sedang tidak kita butuhkan.

Reuse (pemakaian kembali), kita bisa menggunakan barang-barang yang ada dirumah, yang masih layak untuk dipakai kembali tanpa harus membeli barang baru.
Repair (memperbaiki barang yang rusak), sebelum memutuskan untuk membeli barang baru karena rusak kita usahakan untuk memperbaiki terlebih dahulu. Karena beberapa barang yang rusak masih bisa diperbaiki. Maka usahakan terlebih dahulu untuk memeperbaikinya sebelum memutuskan membeli barang baru.
Receyle (daur ulang), barang-barang yang tidak dipakai lagi bisa kita memanfaatkan untuk kreasi dan inovasi dengan daur ulang. Selain pemanfaatan, ini juga bisa menjadi bentuk mengasah keterampilan kretif diri.
Reduce (mengurangi), buatlah jadwal khusus untuk merapikan barang dengan memilah barang. Dengan begitu akan terlihat barang-barang yang mana saja  masih digunakan atau tidak, dengan begitu memudahkan untuk mengurangi barang tersebut. Sehingga tidak terjadi penumpukan barang.
Regift/ Resell (memberikan), Sebagai minimalis kita sudah seharusnya tidak terikat dengan barang yang kita punya. Ketika kita sadar bahwa barang-barang yang kita punya tidak lagi kita butuhkan, berikan lah barang tersebut kepada orang yang membutuhkan. 
Penerapan gaya hidup minimalis, menurut penulis memberikan banyak manfaat yaitu 
Hemat uang

Secara finansial dapatgaya hidup minimais dapat menghemat karena kita tidak perlu banyak mengeluarkan uang untuk membeli barang, sisa uang yang ada bisa dialokasikan untuk tabungan masa depan. 
Punya banyak waktu 
Menerapkan gaya hidup minimalis bearti kita punya banyak waktu untuk beraktivitas yang lebih produktif dan esensial. Karena ketika waktu dihabiskan hanya untuk berbelanja di social media membuat kita kurang produktif melakukan hal-hal yang esensial. Fokus kita hanya berada di social media kita saja.
Tenang dan Bahagia

Kita sebagai minimalis akan lebih banyak ksempatan untuk hidup tenang dan bahagia. Karena kita hidup dengan kecukupan yang kita punya, tanpa pusing memikirkan hal-hal yang tidak kita butuhkan. Memiliki sedikit barang berarti mengurangi beban.
Penulis berkesimpulan bahwa perkembangan teknologi memang  membawa masyarakat pada hidup mudah.  Kemudahan berbagai hal termasuk dalam aktivitas belanja, memberiakn kesempatn masyarakat untuk hidup implusif. Mereka membeli barang tanpa perencanaan dan bahkan bukan kebutuhannya, namun keinginan sesaat untuk mencapai kebahagiaan. Gaya hidup minimalis hadir  sebagai bentuk mencapai  kebahagiaan dengan kesederhanaan. Kita dapat hidup bahagia dengan tenang dan cukup dengan apa yang telah kita punya.


Editor: red

Komentar

Terkini