Broken Home

Broken Home

ORBITNEWS, Bangka- Broken home menurut Kamus Besar Psikologi (Chaplin, 2006: 71), ialah keluarga retak atau rumah tangga berantakan. Dikutip dari katadata.Menurut para ahli
1.Wells,  menjelaskan broken home ,adalah keluarga yang mengalami perpecahan karena kematian, perceraian, seseorang yang tidak menikah, dan mengakibatkan melakukan tindakan kriminal.
 2. Quensel, menjelaskan  broken home adalah penggambaran keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan seperti keluarga. Adanya konflik membuat pertengkaran dan berakhir menjadi perpisahan.
Dapat disimpulkan dari kutipan di atas bahwa broken home adalah suatu  kondisi di dalam rumah tangga atau keluarga yang mengalami suatu permasalahan dan memiliki dampak yang besar terhadap anggota keluarga terutama pada anak.
Fenomena broken home sering kali membuat anak mereka merasa tertekan,trauma dan lain sebagainya  yang membuat mereka tanpa sadar melakukan suatu hal yang di luar kontrol mereka. Dikutip dari  regiona.kampus.com ada seorang siswa kelas VIII SMP Darussalam Pontianak, NF (16) yang memukul gurunya sendiri, bernama Nuzul Kurniawati (49) pada Rabu (7/3/2018) berasal dari keluarga broken home. Latar belakang keluarga tersebut diduga menjadi penyebab perilaku pelaku dan memengaruhi karakternya, sehingga berbuat hal yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang siswa terhadap gurunya."Selama ini pelaku tinggal bersama keluarganya, kadang di rumah pamannya, kadang juga di rumah kakeknya, sering berpindah tempat tinggal," ucap Purwanto.
Dikutip dari solopos.com Yayasan Lentera Bangsa Indonesia (YLBI) Tanon mengungkap data yang memprihatinkan. Mayoritas anak di Sragen menjadi pecandu narkoba karena permasalahan keluarga, utamanya broken home atau perpisahan orang tua.Ketua IPWL YLBI Tanon, Sunardi, mengatakan pihaknya merawat seorang bocah perempuan berusia 13 tahun yang menjadi pecandu narkoba karena broken home.Bocah 13 tahun itu, ujar dia, memakai pil koplo sejak masih duduk di Kelas VI SD. Dia menerangkan bocah itu merupakan korban broken home sehingga ia tinggal bersama bibinya.
Faktor dari broken home dan menimbulkan dampak bagi sang anak yaitu tidak terjalinnya keharmonisan lagi dalam sebuah keluarga yang memicu keretakan dalam rumah tangga. Banyak faktor yang dapat memicu keretakan dalam rumah tangga, yaitu antara lain:
Perceraian Orang Tua
Perpisahan orang tua sering kali menjadi faktor utama dalam broken home yang mana awal-awal selalu mengalami pertengakran-pertengkaran di rumah tangganya hingga tak bisa lagi di perbaiki dan kedua oran tua sepakat untuk berpisah ,yang memiliki dampak  sangat besar terhadap sang anak, dimana ia bingung harus menentukan  tinggal bersama ayah atau ibunya belum lagi perkataan masyarakat terkait perceraian orang tuanya yang membuat sang anak tambah tertekan. Yang mana sebenranya dituaikan pada pasal 33 Undang-Undang  Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyatakan bahwa “ Suami istri wajib saling cinta-mencita hormat-menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain”

Ketidakdewasaan Orang Tua
Hal ini disebabkan karena orang tua saling memiliki sifat egois yang selalu mementingkan diri sendiri dan satu sama lain orang tua merasa dirinya paling sehingga satu sama lain engan untuk mengalah karena menganggap dirinya yang paling benar dan ketika ada kesalahan mereka saling menyalahkan. Pada akhirnya orang tua sering kali bertengkar dari hal kecil yang dapat membesar karena sifat keegoisan masing-masing orang tua. Dalam pasal 30 Undang-Undang tentang Perkawinan yang berbunyi sebagai berikut : “Suami - isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat”.

Tak jarang kala karena  ketidakdewasaan orang tua mereka bertengkar samapi melakukan kekerasan dalam rumah tangga di hadapan sang anak sehingga membuat memoriable pahit bagi anak yang mana seharusnya orang tua menjadi contoh terdepan yang baik untuk anak. Karena hal itu ada rasa kekecewaan terhadap orang tua membuat goresan-goresan di batin sang anak dan menjadikan anak tersebut juga memiliki sifat egoisme terhadap orang luar yang ia lihat dalam kelurganya dan tak jarang juga anak tersebut memilih jarang pulang kerumah karena kebosanan yang ia lihat ketika di rumah hanyalah pertengkaran orang tuanya.

Yang mana harusnya rumah itu menjadi hal yang membuat rasa nyaman dan aman, tapi hal itu jauh dari rasa nyaman dan aman sehingga sang anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan tidak bisa terkontrol apa yang ia lakukan di luar rumah.

Tidak Tanggung Jawab Sebagai Orang Tua
Dalam hal ini dikarenakan kesibukan orang tua dalam berkarir,kehidupan sosial, dan hobi yang melupakan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Keadaan dimana ayah dan ibunya sama-sama berkeja hinga sibuk dengan perkerjaan masing-masing kadang sampai larut malam dan bahkan sering keluar kota/negeri. Dan saat memiliki waktu yang sengang orang tua lebih memilih menghabiskan waktunya di luar rumah untuk bersosialisasi atau menjalankan hobinya.

Dimana biasanya sang ibu memilih untuk hang out,arisan ,dan berkumpul bersama teman-temanya sedangkan sang ayah memilih untuk menjalankan hobinya bersama teman-temannya.
Kadang kala mereka menggunakan tag line “me time” untuk membenarkan perbuatannya atau juga terkadang  mengguanakan “reward”  sebagai bentuk penghargaan atau pencapaian terhadap diri mereka sendiri karena sudah berkerja keras.

 Dengan begitu mereka melupakan tugasnya atau peran tanggung jawab itu sendiri sebagai orang tua,mereka tidak memiliki waktu untuk keluarga atau anaknya. Dimana telah disebutkan dalam pasal 103 KUHPerdata “ Suami istri,dengan melakukan perkawinan,telah saling mengikatkan diri untuk memelihara dan mendidik anak mereka” dan terdapat juga dalam pasal 45 Undang-Undang tentang  pernikahan mentakan bahwa “Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.”   Bahwa orang tua harus bertanggung jawab atas anaknya. Tapi dalam hal ini orang tua sering kali menitipkan anaknya dengan ART(Asisten Rumah Tangga). Sehingga anak itu memiliki perasaan kesepian,kekosongan, kecemburuan,kebencian,dan dengki di hatinya, kecemburuan ini muncul saat anak itu melihat temannya yang begitu hangat dan bahagia dengan keluarganya yang lengkap sedangkan ia tak pernah merasakan kehangatan itu. 


Editor: red

Komentar

Terkini