PENTINGNYA MODERASI BERAGAMA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN

PENTINGNYA MODERASI BERAGAMA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN

ORBITNEWS, Bangka,- Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang terdiri dari suku, ras dan agama, yang berbeda-beda oleh sebab itu diperlukan sikap toleransi, menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Salah satu kemajukan bangsa indonesia yang unik dan perlu ditangani secara sesius adalah keberagaman beragama. Keberagaman beragama merupakan hal yang sangat sensitif yang tak jarang  menjadi sumber pertentangan atau konflik antar umat beragama. Dalam menanggapi hal ini perlu suatu sikap atau pemahaman yang perlu dikembangkan yaitu moderasi beragama. Moderasi beragama sangat tepat sekali diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama pada masyarakat yang multikultural seperti bangsa Indonesia. Moderasi beragama sebagai jalan tengah dalam mengadapi perbedaan baik kelompok ekstrem maupun fundamental. Untuk menerapkan moderasi beragama dimasyarakat multikultural salah satu cara yang perlu dilakukan adalah  menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis utama penerapan  moderasi beragama.

Medorasi Beragama
Moderasi berasal dari bahasa latin Moderatio berarti sedang (tidak berlebih dan juga tidak kekurangan). Kata itu juga berarti mampu menguasai diri dari sikap berlebihan ataupun malah sebaliknya sikap sangat kurang. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  kata moderasi mengandung 2 makna yaitu 1). Pengurangan kekerasan., 2). Penghindaran keekstreman. (Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2019:15). Tema ini penting dan perlu untuk disosialisasikan, dipahami dan diterapkan dalam segala sendi kehidupan, hal ini menjadi salah satu misi Kementerian Agama tahun 2020-2024 yaitu memperkuat moderasi beragama dan kerukunan umat beragama. Hal tersebut sejalan dengan sambutan menteri Agama Republik Indonesia tahun 2019 lalu – Lukman Hakim Saiffuddin – yang ditulis dalam buku Moderasi Beragama dan diterbitkan oleh Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, beliau meminta seluruh jajaran di Kementerian Agama untuk menerjamahkan ruh moderasi beragama kedalam setiap kebijakan unit dan beliau berharap seluruh jajaran Aparatur Sipil  Negara (ASN). Kementerian Agama menjadi pihak terdepan yang memahami, meyakini dan menginternalisasi ruh moderasi beragama dalam semua lini kehidupannya (Badan Litabang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2019:vii).
Peranan Penting Moderasi Beragama

Indonesia adalah negara Multikultural yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, bahasa dan agama yang sangat beragam. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) penduduk Indonesia sejumlah 267 juta jiwa, 17.500 Pulau, 1.340 suku bangsa, 652 bahasa daerah dan 6 ada 6 agama yang resmi dianut penduduk Indonesia  yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khongh ucu,namun keyakinan dan kepercayaan keagamaan sebagaian masyarakat Indonesia tersebut juga diekspresikan dalam agama leluhur dan penghayatan kepercayaan yang jumlahnya bisa mencapai ratusan. Kondisi keragaman agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia  bisa saja memunculkan konflik-konflik baik internal maupun eksternal dan banyaknya agama yang dianut, kepercayaan yang diyakini dan juga pemahaman-pemahaman beragama yang dianut sangat banyak. 

Setidaknya ada 3 alasan mengapa moderasi beragama penting:
Menjaga martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Salah satu esensi kehadiran agama adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk ciptaan  Tuhan yang memiliki hak hidup dan beribadah sesuai dengan keyakinannya. Sehingga dengan kesadaran beragama berarti menjaga hubungan dengan sang pencipta dan juga hubungan dengan sesama manusia. Oleh karena itu sangat tidak dibenarkan menghilangkan nyawa dengan alasan ajaran agama semacam yang dilakukan oleh para teroris. Disilah pentingnya moderasi beragama, karena esensinya dalam moderasi beragama berarti seseorang mampu memposisikan dirinya ditengah-tengah keberagaman, dan selalu bertindak adil dan tidak ekstrem dalam beragama.

Merawat keberagaman. Keberagaman bagi bangsa indonesia adalah anugerah Tuhan yang maha esa, ia tidak diminta tetapi pemberian Tuhan yang maha esa, bukan untuk ditawar tapi untuk diterima. Diperlukan suatu cara agar yang beragama itu menghargai perbedaan, dan menjadikan suatu perbedaan menjadi kekayaan bangsa. 
Ada beberapa cara merawat keberagaman agar tidak menimbulkan konflik misalnya:
Menghargai perbedaan pendapat, suku, ras, golongan, dan agama yang berbeda.
Dialog dan kerjasama antar umat beragama dan antar budaya.
Menolak intoleransi dan radikalisme

Intoleransi dan radikalisme sangat merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan intoleransi dan radikalisme menjadi salah satu penyebab konflik dan ketegangan dalam masyarakat. Intoleransi adalah sikap tidak menghargai orang lain, dimana indikator seseorang memiliki sikap intoleransi yaitu memaksakan keyakinan kepada orang lain, mengklaim kebenaran hanya dimiliki oleh dirinya sendiri sedangkan orang lain salah, menunjukkan ketidaksukaan atau kebencian kepada orang lain yang berbeda serta membatasi kebebasan orang lain. Radikalisme adalah suatu paham atau gagasan yang menginginkan adanya perubahan sosial politik dengan menggunakan cara-cara ekstrem. Ciri sikap radikalisme mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan dirinya, menebar rasa takut dengan orang lain baik dengan ucapan maupun perbuatan, menghalalkan darah orang lain yang menentang ideologi dan gerakannya.

Moderasi beragama dalam konteks ke-Indonesiaan diperlukan sebagai strategi dalam merawat kekhasan indonesia itu sendiri. Sebagai bangsa yang heterogen para pendiri negeri ini sudah berhasil melahirkan pancasila sebagai ideologi bangsa dan NKRI sebagai sarana menyatukan semua agama, etnis bahasa dan budaya yang beragama di Indonesia. Segala Jesis ekstrimisme dan radikalisme akan merusak sendi-sendi kekhasan Indonesia, maka moderasi beragama adalah sebuah kenicayaan.
Moderasi beragama harus menjadi komitmen bersama semua warga masyarakat sehingga mampu mengelola dan mengatasi semua jenis perbedaan antara sesama, mengedepankan tenggang rasa, toleransi beragama dan juga saling menghargai dan tidak menyakiti. Indikator yang harus dikedepankan dalam moderasi beragama antara lain:


Editor: red

Komentar

Terkini